Biografi

Noor Huda Ismail (Sutradara)

Noor “Huda” Ismail adalah pendiri Yayasan Prasasti Perdamaian atau The Institute for International Peace Building pada tahun 2008. Lembaga ini membantu para mantan kombatan untuk kembali berintegrasi kembali ke masyarakat.

Atas inisiatif ini, “Huda” mendapatkan penghargaan Ashoka Award tahun 2013.

Sebelum itu, “Huda” adalah ‘special correspondent’ koran Amerika The Washington Post pada tahun 2002-2005. Setelah itu, ia mendapatkan British’s Chevening Scholarship untuk melanjutkan S2 International Security di St Andrews University, Scotlandia.

Buku “Temanku, Teroris? “ karya Huda terpilih dalam Frankfurt International Book Festival 2015.

Tulisan opini Huda bertebaran di harian Kompas, The Jakarta Post, Tempo, The Australian, Sydney Morning Herald, The Washington Post, The Wall Street Journal dan lain-lain.

Ia juga sering diundang menjadi narasumber untuk isu terorisme di Aljazeera, CNN, CNA, ABC, Metro TV, TVOne, RCTI, Kompas TV dan lain-lain.

Tahun 2015, Huda mendapatkan beasiswa Australian Award untuk melanjutkan PhD di Monash University.

Bersama istri, Desy Ery Dani dan kedua anaknya, Hiro (7) dan Salman (5), Huda tinggal di Melbourne Australia.

Tito Ambyo (Multimedia Producer)

Tito Ambyo adalah dosen bidang jurnalisme dan media di RMIT University, Australia. Setelah bekerja sebagai wartawan, editor dan penulis selama lebih dari satu dekade di Australia, Indonesia, Timor Leste dan Jerman, kini Tito sedang menyelesaikan PhD dalam bidang Digital Ethnography di RMIT University.

Selain bekerja sebagai dosen dan peneliti, Tito juga aktif dalam bidang sastra. Novel pendeknya, A Peci for Mamadou, terpilih dalam shortlist Deborah Cass Award pada tahun 2016 di Australia.

Comments are closed here.